Jumat, 09 Maret 2018

MATERI PEMBELAJARAN

MATA KULIAH
: ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BAYI,   
  DAN BALITA
BEBAN STUDI
: 4 SKS
SEMESTER                 
: III
DOSEN PENGAMPU
: Bernadetha Heni Widi Astuti,  S.Tr.Keb



PENDAHULUAN

A.    Deskripsi Singkat
Mengingat pentingnya lingkup asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita dalam menyiapkan mahasiswa untuk menguasai materi pada bab-bab berikutnya, maka pada bab ini akan dijelaskan pokok-pokok materi lingkup asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita meliputi: neonatus normal, lingkup neonatus bermasalah, lingkup kelainan pada neonatus, lingkup trauma pada neonatus, lingkup neonatus beresiko tinggi, lingkup kegawat daruratan neonatus, lingkup neonatus bayi dan balita dengan penyakit yang lazim terjadi. Dengan demikian bahasan pada bab ini merupakan landasan bagi mahasiswa dalam mempelajari bab-bab selanjutnya dari asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita.

B.     Relevansi
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan lingkup asuhan neonatus, bayi, dan balita normal dan abnormal. Materi ini perlu dipahami seorang bidan agar nantinya bidan dapat melakukan tindakan sesuai dengan kewenangannya.

C.    Kompetensi Dasar
Mahasiswa mampu menjelaskan lingkup asuhan neonatus, bayi, dan balita yang meliputi :
1.      Menjelaskan lingkup neonatus normal
2.      Menjelaskan lingkup neonatus bermasalah
3.      Menjelaskan lingkup kelainan pada neonatus
4.      Menjelaskan lingkup trauma pada neonatus
5.      Menjelaskan lingkup neonatus beresiko tinggi
6.      Menjelaskan lingkup kegawat daruratan neonatus
7.      Menjelaskan lingkup neonatus, bayi, dan balita dengan penyakit yang lazim terjadi.




PENYAJIAN

A.    Uraian Materi

1.      Bayi Baru Lahir Normal
a.       Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat (Kosim, 2007).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram (Kristiyanasari, 2009).
b.      Ciri-ciri bayi baru lahir normal
1)      Bayi baru lahir normal memiliki berat badan 2500 – 4000 gram
2)      Panjang badan 48 – 52 cm
3)      Lingkar dada 30 – 38 cm
4)      Lingkar kepala 33 – 35 cm
5)      Frekuensi jantung 120 – 160 kali/menit
6)      Pernafasan ± – 60 40 kali/menit
7)      Kulit bayi baru lahir terlihat kemerahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup
8)      Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9)      Kuku agak panjang dan lemas
10)  Genitalia; untuk perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora dan untuk laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada
11)  Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12)  Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik
13)  Reflek graps atau menggenggam sudah baik
14)  Memiliki eliminasi yang baik, mekonium untuk bayi baru lahir akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan

Tabel 1. Tanda APGAR
Tanda
Nilai : 0
Nilai : 1
Nilai : 2
Appearance
(warna kulit)
Pucat/biru seluruh   tubuh
Tubuh merah, ekstremitas biru
Seluruh tubuh
Pulse
(denyut jantung)
Tidak ada
<100
Ø  100
Grimace
(tonus otot)
Tidak ada
Ekstremitas sedikit   fleksi
Gerakan aktif
Activity
(aktivitas)
Tidak ada
Sedikit gerak
Langsung menangis
Respiration
(pernapasan)

Tidak ada
Lemah/tidak teratur
Menangis
Interpretasi:
1.      Nilai 1-3 asfiksia berat
2.      Nilai 4-6 asfiksia sedang
3.      Nilai 7-10 asfiksia ringan (normal)
c.       Lingkup bayi baru lahir normal
Menurut JNPK-KR/POGI (2007), asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir adalah :
1)      Pencegahan infeksi
Pencegahan infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang harus dilakukan pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Pada saat penanganan bayi baru lahir, pastikan penolong untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi.
Tindakan pencegahan pada bayi baru lahir, adalah sebagai berikut :
a)      Mencuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
b)      Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
c)      Memastikan semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang talipusat telah didisinfksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.
d)     Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.
e)      Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop, danbenda-bendalainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan).
2)      Penilaian awal
Untuk semua BBL, lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan :
a)      Sebelum bayi lahir :
(1)   Apakah kehamilan cukup bulan?
(2)   Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
b)      Segera setelah bayi lahir, sambil meletakan bayi di atas kain bersih dan kering yang telah disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan penilaian berikut :
(1)   Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak mengap-mengap?
(2)   Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?
3)      Pencegahan kehilangan panas
Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat, bayi baru lahri harus dibungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat.
Menurut Yanti (2009) proses kehilangan panas pada tubuh bayi baru lahir sebagai berikut:
a)      Evaporasi yaitu proses kehilangan panas melalui cara penguapan oleh karena temperatur lingkungan lebih rendah dari pada temperatur tubuh (bayi dalam keadaan basah).
b)      Konduksi yaitu proses kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung dengan benda yang mempunyai suhu lebih rendah.
c)       Konveksi yaitu proses penyesuaian suhu tubuh melalui sirkulasi udara terhadap lingkungan.
d)      Radiasi yaitu proses hilangnya panas tubuh bayi bila diletakan dekat dengan benda yang lebih rendah suhunya dari tubuh.
Menurut APN (2008) untuk mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
a)      Keringkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks
b)      Letakkan bayi agar terjadi kotak kulit ibu ke kulit bayi
c)       Selimuti ibu dan bayi dan pakaikan topi di kepala bayi
d)      Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
4)      Asuhan tali pusat
a)      Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
b)      Celupkan tangna yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
c)      Bilas tangan dengan air matang atau desinfektan tingkat tinggi
d)     Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan kering.
e)      Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dnegan menggunakan benang desinfektan tingkat tinggi atau klem tali pusat. Lakukan simpul kunci atau jepitkan secara mantap klem talpi pusat tertentu.
f)       Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat dna dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang berlawanan.
g)      Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5%.
h)      Selimuti ulang bayi dnegan kain bersih dan kering, pastikan bagian kepala tertutup dengan baik.
5)      Memulai pemberian ASI
a)      Mulai menyusui segera setelah lahir (dalam waktu satu jam).
b)      Jangan berikan makanan atau minuman lain kepada bayi (misalnya air, madu, larutan air gula atau pengganti susu ibu) kecuali diinstruksikan oleh dokter atas alasan-alasan medis; sangat jarang ditemukan ibu yang tidak memiliki air susu yang cukup sehingga memerlukan susu tambahan.
c)      Berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidupnya dan baru dianjurkan untuk memulai pemberian makanan pendamping ASI setelah periode eksklusif tersebut.
d)     Berikan ASI pada bayi sesuai dorongan alamiahnya baik siang maupun malam (8-10 kali atau lebih, dalam 24 jam) selama bayi menginginkannya.
6)      Pemberian prolaksis terhadap gangguan pada mata.
Beri salep mata antibiotika pada kedua mata untuk merawat mata bayi. Tetes mata untuk pencegahan infeksi mata dapat diberikan setelah ibu dan keluarga memomong dan diberi ASI. Pencegahan infeksi tersebut menggunakan salep mata tetrasiklin 1 %. Salep antibiotika tersebut harus diberikan dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran.
Cara pemberian profilaksis mata :
a)      Cuci tangan (gunakan sabun dan air bersih mengalir
b)      Jelaskan apa yang akan dilakukan dan tujuan pemberian obat tersebut.
c)      Berikan salep mata  dalam satu garis lurus mulai dari bagian mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju kebagian luar mata.
d)     Ujung tabung salep mata tak boleh menyentuh mata bayi.
e)      Jangan menghapus salep mata dari mata bayi dan anjurkan keluarga untuk tidak menghapus obat-obat tersebut (APN, 2007) 
2.      Lingkup Neonatus Bermasalah
Bayi yang bermasalah adalah apabila setelah dilahirkan bayi menjadi sakit atau gawat dan membutuhkan fasilitas serta keahlian yang lebih memadai. Kalau masalahnya tidak terlalu berat, bisa diatasi segera dan harus dilakukan pengawasan. Tapi kalau tidak bisa ditangani untuk itu tentunya bayi harus dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap.
Masalah yang sering terjadi pada bayi baru lahir :
a.       Asfiksia
Asfiksia adalah suatu keadaan bayi baru lahir tidak bias bernafas secara spontan dan teratur. Depresi yang dialami bayi pada saat dilahirkan dengan menunjukkan gejala tonus otot yang menurun dan mengalami kesulitan mempertahankan pernafasan yang wajar. Kondisi ini menyebabkan kurangnya pengambilan oksigen dan pengeluaran CO2
b.      Gangguan pernafasan
Gangguan pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi oleh berbagai sebab. Apabila gangguan pernafasan disertai dengan tanda –tanda hipoksia ( kekurangan O2 ), maka prognosisnya buruk dan merupakan penyebab kematian BBL, seandainya bayi selamat dan tetap hidup akan akan beresiko terjadinya kelainan neurologis dikemudian hari. Penyebabnya  antara lain :
1)      Obstruksi jalan nafas
2)      Penyakit parenkhim Paru-paru
3)      Kelainan perkembangan organ
4)      Sebab selain paru ( payah jantung, kelainan SSP, asidosis metabolic dan asfiksia )
c.       Hipo / Hipertermi
Hipotermi adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh bayi turun dibawah 36 °. Ini biasanya karena bayi yang baru lahir lambat dikeringkan,sehingga terjadi penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh.
Hipertermi merupakan lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan didekat api atau dalam ruangan yang terlalu panas.
d.      Bayi berat lahir rendah
Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. Ini dibedakan dalam :
1)      Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) , BB 1500 – 2500 gram
2)      Bayi Berat lahir sangat rendah ( BBLSR ) , BB < 1500 gram
3)      Bayi Berat lahir Ekstrem Rendah ( BBLER ), BB < 1000 gram
e.       Dehidrasi
Suatu keadaan dimana bayi kehilangan cairan tubuh 5%  atau lebih., sementara kadar air dalam tubuh bayi 82% Gejala/ tanda bayi dehidrasi :
1)      Bayi mengantuk
2)      Tampak kehausan
3)      Kulit,bibir dan lidah kering
4)      Saliva menjadi kental
5)      Mata dan ubun-ubun cekung
6)      Warna kulit pucat
7)      Turgor kulit berkurang
8)      Apatis
9)      Gelisah kadang-kadang kejang.
f.       Ikterus
Ikterus pada bayi baru lahir lebih banyak terdapat pada neonates kurang bulan. Ikterus ini bisa fisiologis, dan bisa patologis.
1)      Ikterus fisiologis timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak ada dasar patologis dan tidak menyebabkan suatu morbiditas.
2)      Ikterus patologis biasanya timbul pada hari pertama dan ada dasar patologis, kadar bilirubinnya mencapai hiperbilirubinemia.
g.      Tetanus Neonatorum
Penyakit tetanus neonatorum adalh penyakit tetanus yang terjadi pada bayi berusia kurang 1 bulan yang disebabkan oleh klostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan racun dan menyerang system saraf pusat.
h.      Kejang
Kejang pada bayi sering tidak dikenali karena bentuknya berbeda dengan kejang pada anak atau dewasa. Manifestasinya dapat berupa tremor, hiperaktif, kejang-kejang , tiba-tiba menangis melengking, tonus otot hilang, gerakan tidak menentu. Oleh karena itu sering kejang pada bayi tidak dikenali oleh ibu yang belum berpengalaman.
i.        Gangguan saluran cerna
Bayi yang baru lahir dengan perut buncit disertai atau tanpa gejala tambahan seperti muntah dan diare cukup sering ditemukan. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan pada saluran cerna, yang apabila tidak segera  ditangani dengan benar akan berakibat timbul komplikasi yang lebih buruk seperti syok, dehidrasi bahkan kematian. Kasus yang sering ditemukan seperti Obstruksi intestinal, peritonitis perdarahan dalam abdomen dan kelainan bawaan.
3.      Lingkup Kelainan Pada Neonatus
Kelainan bawaan  (kongenital) adalah kelainan yang dibawa sejak lahir,merupakan penyimpangan dari bentuk umum karena gangguan perkembangan dikemudian. Sebab langsung sukar diketahui, beberapa factor yang mempengaruhi adalah :
a.       Factor genital, adanya kelainan kromosom pada suami atau isteri.
b.      Factor lingkungan dari ibu : infeksi oleh virus (rubella, polio, herpes) terutama bila menyerng pada trimester I kehamilan
c.       Umur ibu : down syndrome didapat pada ibu berumur dibawah 35 tahun makin tua umur ibu makin besar kemungkinan mendapat bayi cacat.
d.      Paritas : secara tidak langsung berhubungan dengan umur ibu
e.       Radiasi
f.       Obat-obatan


Beberapa cacat bawaan :
a.        Hidrosefalus
Rongga otak bayi mengandung terlalu banyak cairan. Dapat mengganggu kelancaran persalinan
b.      Bibir sumbing (labio palato schizis)
Kelainan bawaan berupa bibir belah / palatum belah akibat dari kegagalan proses penutupan maxilla selama masa embrio.
c.       Spina Bifida
Spina bifida adalah suatu keadaan tidak terbentuknya tulang belakang bayi secara lengkap, sehingga sum-sum tulng belakang dan pembungkusnya terpapar.
d.      Anensefalus
Tenggorak bagian atas kepala bayi tidak ada sama sekali
e.       Atresia ani
Atresia ani adalah merupakan suatu kelainan bawaan dimana tidak ada lubang tetap pada anus
f.       Hirschprung
Hirschprung adalah suatu kelainan bawaan yaitu tidak terbentuknya sel ganglion parasimpatis dari pleksus mesentrikus/aurbarchj pada kolon bagian distal
g.      Hernia diafragmatika
Hernia diafragmatika merupakan terbentuknya sebagian diafragma sehingga sebagian isi perut masuk ke dalam rongga thoraks
4.      Lingkup Trauma Pada Neonatus
Bayi mengalami trauma bila bayi mengalami salah satu keadaan berikut ini :
a.       Gerakan abnormal atau posisi asimetris dari lengan atau tungkai
b.      Bengkak pada daerah tulang yang terkena
c.       Menangis apabila lengan, kaki, atau bahu digerakkan
d.      Tidak dapat menutup mata, atau mengerutkan dahi pada sisi yang terkena trauma atau yang kesulitan menelan.

Bentuk-bentuk trauma
a.       Caput Succedaneum
Pembengkakan pada suatu tempat di kepala karena adanya timbunana getah bening di bawah lapisan apinerose di luar periostium
b.      Cephal Hematoma
Pembengkakan pada kepala karena adanya penumpukan darah pada sub-periostium dengan batas yang jelas dan darah tidak melewati garis sutura tengkorak bayi baru lahir.
c.       Brachial Palsi
Kelumpuhan pada pleksus Brachialis.
d.      Fraktur Clavicula
Patahnya tulang clavicula pada saat persalinan biasanya kesulitan melahirkan bahu pada letak kepala dan melahirkan lengan pada presentasi bokong.
5.      Lingkup Neonatus Beresiko Tinggi
Resiko tinggi menyatakan bahwa bayi harus mendapat pengawasan ketat oleh dokter dan perawat yang telah berpengalaman. Lama masa pengawasan biasanya beberapa hari tetapi dapat berkisar dari beberapa jam sampai beberapa minggu
Jenis-jenis resiko tinggi pada neonatus                         :
a.       BBLR
Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram 
b.      Hiperbilirubinemia
Merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana kadar bilirubin seru total lebih dari 10 mg % pada minggu pertama dengan ditandai ikterus.
c.       Asfiksia Neonaturum
Merupakan keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas spontan dan teratur setelah lahir, yang dapat disertai dengan hipoksia.
d.      Tetanus neonaturum
Merupakan tetanus yang terjadi pada bayi yang dapat disebabkan adanya infeksi melalui tali pusat , Yang dipicu oleh kuman clostridium tetani yang bersifat anarerob dimana kuman tersebut berkembang tanpa adanya oksigen.
e.       Respiratory Distress Sindrom
Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispneo, frekwensi pernapasan yang lebih dari 60 kali permenit, adanya sianosis, adanya rintihan, pada saat ekspirasi adanya rektraksi suprasternal.
6.      Lingkup Kegawat Daruratan Neonatus
Kasus gawat darurat neonatus ialah kasus bayi baru lahir yang apabila tidak segara ditangani akan berakibat pada kematian bayi. Apabila sesudah dilahirkan bayi menjadi sakit atau gawat dan membutuhkan  fasilitas dan keahlian yang memadai, bayi harus dirujuk. Contohnya :
a.       Aspiksia
b.      Hipo / Hipertermi
c.       Ikterus patologis
d.      BBLR
e.       Penyakit yang lazim terjadi pada bayi dan balita :
f.       Diare
g.      Asthma  Bronchial
h.      Broncho Pneumonia
i.        Morbilli
j.        DBD
k.      Kejang
7.      Lingkup Neonatus, Bayi, Dan Balita Dengan Penyakit Yang Lazim Terjadi
a.       Bercak Mongol
Bercak mongol merupakan bercak rata berwarna kebiruan, kehitaman, atau kecoklatan yang lebar, dan umumnya terdapat pada sisi punggung bawah, juga paha belakang, punggung atas, bokong dan bahu. Bercak ini muncul soliter atau multipel, dan biasanya memudar pada beberapa tahun pertama walaupun sering juga menetap hingga dewasa.
Penyebabnya adalah terdapatnya melanosit yang mengandung melanin. Bercak ini hanya merupakan lesi jinak dan tidak berhubungan dengan kelainan-kelainan sistematik. Penampilan yang khas dan bersifat kongenital membedakan bintik ini dengan memar karena penganiayaan seperti pada penganiayaan anak atau perlakuan salah pada anak.
b.      Ikterik
Ikterik adalah menguningnya sklera, kulit, atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh. Ikterik atau ikterus pada bayi baru lahir terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan. Klasifikasi:
1)       Ikterus fisiologis: ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis. Kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan.
2)      Ikerus patologis: ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia.
Ikterus dapat dicegah dengan:
1)      Pengawasan antenatal yang baik
2)      Tindakan menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pda bayi selama masa kehamilan dan kelahiran (misalnya surfafurazol, novobiosin).
3)      Penanganan asfiksia dan trauma persalinan yang tepat.
4)      Pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi baru lahir dengan ASI
5)      Pencegahan infeksi.
6)      Penatalaksanaan ikterus fisiologis dengan minum ASI dini dan sering. Bayi yang pulang sebelum 48 jam, diperlukan pemeriksaan ulang dan kontrol lebih cepat terutama bila tampak kuning. Ikterus yang patologis diatasi dengan terapi sinar dan transfusi tukar.
c.       Muntah
Muntah adalah proses refleks yang sangat terkoordinasi yang mungkin didahului oleh peningkatan air liur. Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering sekali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai kondisi. Muntah dapat merupakan gejala penyakit ringan atau penyakit berat. Sifat muntah:
1)      Keluar cairan terus-menerus, kemungkinan disebabkan oleh obstruksi esofagus.
2)      Muntah proyektil, kemungkinan disebabkan oleh stenosis pilorus
3)      Muntah hijau kekuningan, kemungkinan disebabkan oleh obstruksi dibawah ampula vateri.
4)      Muntah segera ketika lahir dan menetap, kemungkinan disebabkan oleh tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi usus.
Penyebab muntah
1)      Dalam masa neonatus. Kelainan kongenital saluran pencernaan, paralisis palatum, atresia esofagus, kalasia, akalasia, iritasi pada lambung (mekonium, amnion, darah)
2)      Setelah masa neonatus. Pada masa ini penyebab muntah makin banyak dan semakin sulit.
Diagnosis perlu mempertimbangkan :
1)      Faktor psikogenetik
2)      Faktor infeksi, apendisitis, peritonitis, divertikulitis, adenitis mesentrial, infeksi traktus akut, hepatitis
3)      Faktor lain : invaginasi, kelainan intrakranial, kelainan endokrin, epidemik vomitis, cycling vomiting, refleks.
Muntah dapat mengakibatkan kehilangan cairan tubuh atau elektrolit sehingga dapat terjadi dehidrasi. Bila tadak mau makan dan minum, akan terjadi ketosis. Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya dapat menjadi syok. Bila muntah sering dan hebat, akan terjadi ketegangan otot dinding perut, perdarahan konjungtiva, rupture esofagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah, jahitan terlepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan. Penatalaksanaan muntah adalah :
1)      Kaji faktor penyebab
2)      Obati sesuai penyebabnya
3)      Beri suasana tenang
4)      Perlakukan bayi atau anak ddengan baik dan hati – hati
5)      Beri diet yang sesuai dan jangan beri makanan yanng merangsang
6)      Kaji sifat muntah
7)      Bila ada kelainan yang sangat penting, segera lapor atau rujuk kerumah sakit.
d.      Gumoh
Regurgitasi  atau gumoh adalah keluarnya susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah meminum susu botol atau menyusu dan dalam jumlah yang sedikit. Penyebabnya adalah anak atau bayi sudah kenyang, posisi anak atau bayi saat menyusui yang salah, posisi botol yang salah, atau tergesa – gesa waktu menyusu.
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal, terutama pada bayi muda di bawah 6 bulan. Penatalaksanaannya dengan memperbaiki posisi botol pada saat menyusu, setelah makan atau minum usahakan anak bersendawa, bayi atau anak yang menyusu pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat pada puting susu ibu.
e.       Oral Trush
Oral Trush adalah infeksi jamur yang terjadi pada area hangat dan basah yang ditandai dengan bercak-bercak membran berwarna putih, menimbul, mirip sisa-sisa susu di selaput lendir bibir, lidah, palatum, dan faring. Mula-mula dianggap endapan susu, tetapi apabila dipaksa diangkat akan menyebabkan bayi malas menyusu karena terasa agak nyeri. Dalam hal ini diagnosis dapat dipastikan dengann melakukan pemeriksaan mikroskop langsung dan biakan kerokan mukosa terkait.
Infeksi pada neonatus ini dapat sembuh spontan dengan pengobatan 1ml larutan nistatin (100.000 unit/ml) yang di berikan 4 kali sehari dengan interval 6 jam. Obat ini akan membatasi penyebaran penyakit hanya diruang perawatan bayi serta menghindari infeksi berkepanjangan yang kadang-kadang terjadi. Larutan tersebut hendaknya ditaruh dengan lembut dan hati-hati kedalam mulut sehingga mendapat kesempatan untuk menyebar luas diseluruh rongga mulut sebelum ditelan. Pencegahan oral trush adalah dengan membersihkan dan mengeringkan segera daerah mulut bayi dan sekitarnya setiap selesai menyusu serta menjaga kebersihan ibu dan bayinya.
f.       Diaper Rush
Diaper rush terjadi akibat kontak kulit yang terus menerus dengan lingkungan yang tidak baik, diaper rush disebut juga ruam popok. Ruam popok adalah masalah yang amat lazim dan perlu perhatian agar daerah popok tetap bersih dan kering sehingga ruam tidak berkembang. Ganti popok setiap popok menjadi basah atau kotor. Seka daerah kemaluan dengan bagian popok yang bersih lalu oleskan losion bayi, sebelumnya keringkan dengan lembut.
Suatu zat bernama urea selalu terdapat pada air seni dan di ubah menjadi amonia oleh bakteri yang biasa di temukan pada kulit bayi dan mengkontaminasi popok yang basah dan kotor. Amonia mengiritasi kulit, menyebabkan ruam popok jika mengenai kulit untuk jangka waktu tertentu. Ruam popk dapat berubah dari kemerah-merahan dan lecet ringan menjadi radang dengan kulit pecah-pecah. Bayi yang mendapat susu botol lebih mudah terkena ruam popok karena bakteri bertahan hidup pada suatu medium alkali yang terdapat pada feses bayi tersebut. Tanda dan gejala ruam popok adalah iritasi terjadi di daerah di lipatan paha, tangan, dan erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti bokongnya.Penyebab ruam popok:
1)      Kebersiahan kulit kurang terjaga
2)      Jarang ganti popok setelah buang air kecil
3)      Udara/ suhu yang terlalu panas
4)      Diare
5)      Reaksi kontak terhadap karet, plastik, deterjen



Penatalaksanaan ruam popok adalah:
1)       Gunakan popok sekali pakai tanpa pemutih. Ada popok yang di buat dengan menggunakan proses pemutihan yang mengeluarkan racun dioksin.
2)       Gunakan popok secara teratur, jangan biarkan bayi terbaring dengan popok basah.
3)      Letakkan pelapis popok sekali pakai satu muka di sisi kulit bayi anda. Ini memungkinkan urine langsung keluar untuk di serap oleh popok yang ada di bawah sehingga kulit tetap kering.
4)      Jaga agar bokong bayi tetap kering dan bersih.
5)      Usahakan bokong bayi terbuka agar terkena angin setiap kali mengganti popok
6)      Hindari kulit menjadi pecah-pecah, gunakan krim khusus pencegah ruam popok. Selain itu jangan gunakan celana plastik karena celana ini membuat urine kontak dengan kulit dan membatu terbentuknya amonia
7)      Hindari mencuci bokong bayi dangan sabun dan air. Sabun dapat mengering di kulit dan menyebabkan kulit pecah-pecah.
8)      Untuk melindungi kulit, gunakan hanya losion bayi atau krim ruam popok. Hindari menggunakan krim antiseptik yang di jual bebas karena dapat menimbulkan iritasi.
9)      Jaga kebersihan, ganti popok sesering mungkin, jaga suhu bayi.
10)   Jaga agar tidak terkena air, tetap terbuka dan tetap kering.
11)  Bersihkan dengan kapas halus dan minyak (baby oil)
12)  Segera bersihkan bila anak berkrmih atau buang air besar.
13)  Atur posisi tidur agar tidak menekan luka
14)  Jaga kebersihan kulit dan tubuh, kebersihan pakaian
15)  Bilas bekas perianal setelah berkemih atau defekasi.
g.      Seborrhea
Seborrhea adalah sebum lemak yang berlebihan, terjadi pada 3 bulan pertama kehidupan. Gejala klinisnya beruparuam merah mengelupas pada kulit kepala, alis mata, lipatan leher, ketiak, lipatpaha dan daerah popok. Penyakit menetap selama beberapa minggu sampai beberapa bulan, kemudian sembuh dengan spontan, jarang menimbulkan gejala. Penatalaksanaan gangguan ini dengan menggunakan emolien (krem berair) atau hidrokortison 0,5 atau1%. Kulit kepala diulut dengan minyak, kemudian dikramas dengan sampo ringan. Jika resisten gunakan asam salisilat 1% dalamkrem mengandungair sebagai keratolitik.
h.      Bisulan
Furunkel/bisul adalah suatu infeksi nekrotik akut folikel rambut atau benjolan yang nyeri pada kulit karena radang terbatas pada kulit jangat dan jaringan bawah kulit yang meliputi mata bisul. Bisul disebabkan oleh bakteri yang masuk kedalam kulit melalui kandung rambut, kelenjar palit, atau kelenjar kringat. Furunkulosis adalah timbulnya segrombolan bisul atau furunkel secara serentak, sering terjadi pada penderita penyakit gula (diabetes melitus).
Penyebab furunkulosis adalah stafilokokus. Tetapi epidemik furunkolosis disebabkan oleh strain khusus stafilokokus. Gejalanya sering berat tetapi sebentar dan tidak ditemukan faktor predisposisi.Bisul menimbulkan demam dan terasa sangat nyeri sebelum terbentuknya nanah. Setelah nanah terbentuk, nyeri akan berkurang. Setelah cukup matang bisul akan pecah dan nanah serta darah mengalir nanah bisul berisi kuman, dan dapat menulari kulit lain. Gejala awal adalah penderita akan merasa gatal, lesi menjadi nyeri bila ditekan atau diusap selama proses supurasi, lesi terasa sakit sekali.
Tanda-tanda timbulnya peradangan adalah folikuler kecil dan merah yang cepat bertambah besar dan membentuk suatu tonjolan berbentuk kerucut dan terasa keras dan dikelilingi oleh bagian yang memerah. Ketika supurasi yang terjadi, timbul pustuladan kemudian edema, dan rongga terisi oleh jaringan granilasi. Area yang bisa terkena adalah wajah terutama bibir atas, hidung, kuduk, punggung, ketiak, badan, dan paha. Furunkulosis merupakan abses folikel rambut, biasanya rambut vellus. Nekrosis dengan kerusakan folikel sering terjadi sesudah abses perifolikuler.



B.     Latihan
1.      Jelaskan cara mencegah infeksi apda bayi baru lahir!
2.      Jelaskan macam-macam proses kehilangan panas pada tubuh bayi baru lahir!
3.      Apasaja tanda bayi dehidrasi?
4.      Apasaja yang harus dilihat ketika melakukan penilaian awal bayi baru lahir?
5.      Jelaskan cara penatalaksanaan diaper rush!

C.    Rangkuman
1.      Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat (Kosim, 2007).
2.      Lingkup bayi baru lahir normal meliputi :
Pencegahan infeksi, penilaian awal, pencegahan kehilangan panas, asuhan tali pusat, memulai pemberian ASI, pemberian salpe profilaksis.
3.      Lingkup bayi baru lahir bermasalah meliputi : asfiksia, gangguan pernafasan, hipotermi / hipertermi, berat badan lahir rendah, dehidrasi, ikterus, kejang.
4.      Lingkup kelainan pada bayi baru lahir meliputi : caput succedaneum, cephal hematoma, brachial palsi
5.      Lingkup neonatus beresiko tinggi meliputi :  hidrosefalus, bibir sumbing (labio palato schizis), spina bifida, anensefalus, atresia ani, hirschprung, hernia diafragmatika
6.      Lingkup neonatus dengan penyakit yang sering terjadi, misalnya : gumoh, muntah, rewel, sborrhea, dan beberapa team.












PENUTUP

A.    Tes Formatif
1.      Ny E baru saja melahirkan di BPS. Bayi menangis kuat, warna kulit merah, gerakan aktif. Penatalaksanaan yang dilakukan segera terhadap bayi Ny E adalah ......
a. Memandikan
b. Mengisap lendir
c. Memotong tali pusat
d. Inisiasi menyusui dini
e. Mengeringkan
2.      Bayi “B” lahir prematur di BPS dengan usia kehamilan 35 minggu, BB: 2400 gram, P: 46 cm, RR: 20 x/ menit, dan Apgar skor 4-6. Dan pada saat persalinan air ketuban bercampur dengan mekonium. Apa diagnosa pada bayi tersebut ?
a. Asfiksia
b. Asfiksia neonatorum ringan
c. Asfiksia neonatorum sedang
d. Asfiksia neonatorum berat
e. Gangguan pernafasan
3.      Tubuh bayi lahir sangat rentan terhadap infeksi, khusunya tali pusat karena merupakan bagian yang terbuka. Apa yang harus dilakukan bidan untuk mencegah infeksi tersebut?
a. Menjelaskan perawatan bersih, kering, dan ditutup kasa steril
b. Menjelaskan perawatan bersih, kompres dengan kassa betadin dan alkohol
c. Menjelaskan membersihkan dengan alkohol
d. Menjelaskan perawatan bersih, kering, dan terbuka
e. Menjelaskan supaya dibiarkan saja
4.      Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir adalah… (9)
a. Pernafasan- sulit atau lebih dari 60 kali permenit.
b. Kehangatan terlalu panas ( > 38° c atau terlalu dingin < 36ºc)
c. Warna kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.
d. Semua benar
5.      Tubuh bayi lahir sangat rentan terhadap infeksi, khusunya tali pusat karena merupakan bagian yang terbuka. Apa yang harus dilakukan bidan untuk mencegah infeksi tersebut? (9)
a. Menjelaskan perawatan bersih, kering, dan ditutup kasa steril
b. Menjelaskan perawatan bersih, kompres dengan kassa betadin dan alkohol
c. Menjelaskan membersihkan dengan alkohol
d. Menjelaskan perawatan bersih, kering, dan terbuka
e. Menjelaskan supaya dibiarkan saja

B.     Tindak Lanjut
Pelajari materi untuk perteman selanjutnya yaitu materi tentang konsep-konsep asuhan neonatus, bayi, dan balita.

C.     Kunci Jawaban
1.      E
2.      C
3.      D
4.      D
5.      D



DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Viviana LL, 2011, Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, Jakarta : Salemba Medika
Dwienda, dkk, 2014, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi/Balita, dan anak Pra Sekolah Untuk Bidan, Jakarta : Deepublish
Hidayat, Aziz Alimul, 2007, Asuhan Neonatus dan Balita : Buku Praktikum Mahasiswa Kebidanan, Jakarta : EGC
Khairunissa Endang, Sudarti, 2015, Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita, Yogyakarta : Numed
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Syafrudin, Hamidah, 2007, Kebidanan Komunitas, Jakarta : EGC